Sekolah Internet Indonesia
Azon Profit Master
jvzoo mastermind

Marketing Ala Nabi Muhammad SAW.

Berhubung hari ini adalah hari Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW. Saya pending dulu janji saya pada postingan sebelumnya yang akan menulis tentang “Bagaimana afilias bekerja “.Pada kesempatan ini Saya hanya ingin mengajak rekan-rekan terkhusus para pengikut-pengikut Beliau untuk pertama-tama mengirimkan Shalawat ke Beliau dengan Membaca “AllahummaSholli ‘alaa Syayyidina Wa syafiinaa Wa Habibinaa Wa Maulanaa Muhammadan Rasulullah Wa alaa aalihii wa sahbihi wa sallim”

Entah sudah berapa banyak tulisan dan entah sudah berapa juta komentar tentang beliau,namun semakin banyak uraian dan semakin banyak kata teruntai tak akan pernah habis sepanjang dunia ini masih ada.

Beliau adalah seorang “Ushwatun Hasanah” contoh yang terbaik. Dari segi kehidupan manapun anda bisa mengambil suri tauladan demi untuk bisa sukses di dunia dan InsyaAllah di akhirat kelak. Karena memang Beliau dilahirkan untuk menjadi Contoh…jadi kunci Utama untuk bisa sukses adalah dengan mencontoh perilaku beliau dalam segala hal termasuk dari segi bisnis yang akan diuraikan dibawah  ini

Tulisan berikut adalah hasil search dan tertulis ini adalah saduran dari : “Strategi Bisnis Nabi Muhammad dalam memenangkan Persaingan Pasar; Thorik Gunara dkk, 2006”

Semoga Allah memberikan balasan amal jariyah  bagi sang penulis dan memberikan mamfaat dan berkah bagi kita yang membacanya ..Amin.

Tulisan ini kita beri saja judul :

MARKETING ALA NABI MUHAMMAD “Sebuah Nasehat dan Teladan Bagi Pebisnis Modern”.

Happy reading ! :D

Bisnis dan perdagangan termasuk dalam kegiatan manusia yang terpenting. Bisnis dan perdagangan diperlukan karena tidak ada seorangpun yang dapat hidup dengan sempurna, mampu menyediakan segala keperluan dan tuntutan hidupnya sendiri tanpa melibatkan orang lain. Oleh karena itu manusia saling memerlukan, bekerjasama dan saling tolong menolong.

Islam mendorong ummatnya berusaha mencari rezeki supaya kehidupan mereka menjadi baik dan menyenangkan. Allah SWT menjadikan langit,bumi, laut dan apa saja untuk kepentingan dan manfaat manusia. Manusiahendaklah mencari rezeki yang halal. Firman Allah dalam surah An-Naba
(78): 10-11 :

“Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk
penghidupan
” .

Dalam ayat itu Allah mengajarkan keseimbangan antara mencari rezeki untuk kehidupan dan beristirahat (leisure). Malam hari untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga dan siang hari bekerja mencurahkan tenaga, berbisnis berdagang untuk mencari rezeki.”

Aisyah pernah meriwayatkan bahwa Rasululah bersabda:

“Hal-hal yang paling menyenangkan yang engkau nikmati adalah yang datang dari hasil tanganmu sendiri, anak-anakmu berasal dari apa yang engkau hasilkan” (HR. Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah).

Nabi juga bersabda, “Berusaha mendapatkan nafkah yang halal adalah kewajiban disamping tugas-tugas lainnya yang telah diwajibkan” (HR. Baihaqi).

Beliaupun memberikan nasihat untuk kita yang bisa senantiasa menjadi
motivasi dan perlu diamalkan. Rafi’ bin Judaij berkata bahwa
Rasulullah saw ketika ditanya, usaha apakah yang paling baik? Rasul menjawab: yaitu usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan semua jual beli yang baik” (HR. Hakim).

Usaha dengan tangan sendiri bisa dalam bentuk aktivitas jasa, produksi, pertanian, perikanan maupun yang lain. Sedang jual beli adalah aktivitas bisnis peniagaan barang dan jasa.

Dalam beberapa hadist Rasulullah SAW memberikan dorongan kepada ummatnya untuk mencari rezeki dengan berusaha dan berdagang.
Rasulullah sendiri adalah contoh seorang pedagang yang sukses. Ketika masih kecil beliau telah menemani pamannya Abu Thalib berdagang ke Syam. Detelah memasuki usia dewasa bahkan beliau sendiri menjalankan bisnis milik Siti Khadijah ke Syam dan kembali dengan keuntungan yang besar. Ini adalah bukti kemampuan, kepercayaan dan amanah beliau sebagai pedagang.

Rasulullah SAW bersabda : “Pedagang yang amanah dan
benar akan bersama dengan para syuhada di hari qiyamat nanti” (HR.Ibnu Majah dan al-Hakim).

Muhammad -yang menjadi pedagang sejak usia muda- mempunyai empat kiat sukses berbisnis. Yakni, sidiq (benar), amanah (dapat dipercaya),fatonah (cerdas, cerdik, memahami manajemen dan strategi bisnis), dan tabligh (kemampuan komunikasi dan meyakinkan relasi atau pembeli).

Bila keempat sifat atau kiat ini ada pada seorang pebisnis, insya Allah dia akan berhasil. Ini merupakan karakter bisnis yang Islami.Namun, bisa pula diterapkan oleh siapa pun, sebab ajaran Islam itu bersifat universal.

Muhammad telah melakukan transaksi-transaksi perdagangannya secara
jujur, adil dan tidak pernah membuat pelanggannya mengeluh atau
kecewa. Ia selalu menepati janji dan mengantarkan barang dagangan
dengan standar kualitas sesuai permintaan pelanggan. Reputasinya
sebagai pedagang yang benar-benar jujur telah tertanam sejak muda. Ia
selalu memperlihatkan rasa tangungjawabnya terhadap setiap transakasi
yang dilakukan. Lebih dari itu, Muhammad juga meletakkan
prinsip-prinsip dasar dalam melakukan transaksi dagang secara adil
(Afzalurrahman, 1996).

Nasihat-nasihat beliau bisa dijadikan sebagai moralitas baru yang akan membingkai aktivitas para pebisnis hari ini. Muhammad sangat sopan dan baik hati dalam melakuan transaksi binis perdagangan. Selain itu beliau juga menasehati para sahabatnya untuk bersikap yang sama kapan saja dan dengan siapa saja mereka melakukan transaksi.

Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah berkata, “Rahmat Allah atas orang yang berbaik hati ketika ia menjual dan membeli, dan ketika ia membuatkeputusan” (HR. Bukhori).

Dalam kesempatan yang lain Abu Sa’id meriwayatkan bahwa Rasulullah berkata, “Saudagar yang jujur dan dapat dipercaya akan dimasukan dalam golongan para Nabi, Shiddiqien danSyuhada” (HR. Tirmidzi).

Dan banyak lagi ajaran yang menjadi framework kita dalam berbisnis yang perlu dikaji lebih jauh.

Marketing dalam bisnis adalah sebuah konsep yang dimunculkan untuk menghasilkan sebuah penjualan atau lebih jauh diharapkan dapat mendatangkan keuntungan untuk perusahaan atau individu.

Banyak sekali konsep-konsep marketing dibuat seiring dengan  kemajuan
jaman. Semakin tinggi persaingan maka akan semakin sulit untuk melakukan penjualan, semakin sulitnya penjualan maka akan semakin banyak konsep-konsep marketing untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Ada kalanya yang “menyerah” dan beralih ke bidang lain, tetapi tidak sedikit pula untuk mencapai tujuan mereka mendobrak etika dalam berbisnis.

Etika adalah sebuah peraturan sosial yang tidak tertulis namun secara tidak langsung langsung disepakati dan dilaksanakan oleh seluruh masyarakat dalam kontek sosial, sehingga bila etika dilanggar maka hukuman yang timbul juga akan bersifat sosial seperti dijauhi atau diacuhkan dan yang paling berat adalah dimasukkan dalam daftar hitam oleh masyarakat.

Setiap masyarakat mempuyai etika yang berbeda sesuai bidangnya termasuk dalam berbisnis. Pada dasarnya etika dalam berbisnis secara keseluruhan mempunyai 2 poin utama yaitu tidak menipu atau mengelabui dan tidak melanggar nilai-nilai kesopanan dalam masyarakat.
Marketing digunakan untuk mendapatkan uang, sehingga kadangkala etika
tidak lagi dipergunakan dalam berbisnis. Saling menjatuhkan, saling menjilat, saling menginjak hingga melakukan kebohongan seakan-akan disahkan dalam suatu strategi marketing.

Kecap tidak ada nomor dua, semuanya no 1. Komunikasi dalam promosi yang membesar-besarkan produk secara berlebihan yang sebenarnya tidak mencerminkan keadaan produk sebenarnya, sehingga menipu konsumen seringkali kita jumpai dalam segala bidang. Pergesaran pola pemasaran dari pola tradisional ke modern semakin mengecilkan etika dalam berbisnis.

Lalu bagaimana untuk menjalankan bisnis? apakah tidak perlu marketing?.. tetapi yang perlu diingat pada dasarnya kita akan selalu melakukan marketing dalam setiap apa yang kita lakukan..!!
Apa yang kita butuhkan? yang dibutuhkan dalam menjalankan bisnis adalah ilmu dan konsep marketing yang jujur. Kenapa harus jujur?
Perusahaan tentunya ingin mendapatkan hasil yang maksimal dengan
berdasarkan kekuatan loyalitas dari konsumennya. Karena pelanggan yang
setia akan selalu menggunakan produknya Kesetiaan tercipta dari kepercayaan dan kepercayaan lahir dari hubungan yang baik yang
didasari oleh sikap saling percaya. Saling percaya akan terbentuk
apabila keduabelah pihak sama-sama jujur.

Kembali kepada marketing yang jujur, sejauh ini di dunia ada satu
manusia yang paling jujur dan paling dipercaya (al-amin) yaitu Nabi Muhammad SAW yang kebeteulan beliau bukan hanya seorang nabi tetapi sebelum mendapat gelar kenabiannya beliau adalah seorang pengusaha.
Apa yang telah beliau laksanakan dalam berdagang, sangatlah menarik
untuk diperhatikan terlepas dari kapasitasnya sebagai seorang Nabi
utusan Allah SWT, tetapi sebagai seorang pedagang.

Marketing Muhammad adalah marketing yang dilakukan oleh Muhammad pada abad ke 7, dimana beliau menempatkan sikap jujur , ikhlas,Profesionalisme, Silahturahmi dan Murah hati sebagai lima rumusankonsep dalam berdagang yang dilakukan oleh beliau
Kejujuran yang diikuti konsep ikhlas akan membentuk seorang marketer
atau sebuah perusahaan tidak lagi memandang materi sebagai tujuan
utama. Tetapi lebih terbuka kepada keberhasilan/ keuntungan baik secara
materi maupun non materi bahkan terhadap suatu kegagalan.
Kedua konsep tersebut dibingkai oleh sikap Profesionalisme sehinga
sorang marketer/perusahaan akan memaksimalkan suatu pekerjaan atau
dalam menghadapi masalah, tidak mudah menyerah maupun menjadi pengecut bila mendapatkan resiko.

Silahturahmi, adalah konsep keempat yang menjembatani antar manusia
dengan manusia baik bukan saja antar penjual dan pendagang bahkan
dengan kompetitor sekalipun.

Konsep terakhir adalah konsep Murah hati, konsep ini menjadikan contoh
dari Muhammad dalam menjual dan membeli sehingga akan menimbulkan
respect to people sehingga akan melanggengkan setiap usaha yang akan
kita lakukan.

Sudahkan anda sahabatku menjalankan 5 konsep marketing ala nabi
Muhammad SAW
hari ini, dan bagaimana hasilnya menurut anda wahai
sahabat …?

disadur dari Marketing Muhammad : Strategi Bisnis Nabi Muhammad dalam
memenangkan Persaingan Pasar; Thorik Gunara dkk, 2006